Kamis, 21 November 2013

Siapakah " Marhaen" Itu???

"Mungkin masih banyak diantara kita yang
bertanya siapakah marhaen itu??"

Marhaenisme adalah ajaran Bung Karno yang diperoleh dengan tidak ada niatan khusus dan menggebu untuk membuat suatu analisa terhadap apa, dan siapa rakyat Indonesia saat itu pada umumnya. Tuhan benar-benar menjadi pengendali terbentuknya faham Marhaenisme ini.
Mungkin tidak akan terjadi perisitiwa pagi hari itu, kalau saja ia tidak memendam kecewa terhadap praktik pendidikan tinggi yang ditempuhnya. Kecewa terhadap mata kuliah teknik sipil yang dicekokkan dosen-dosen Belanda kepadanya. Hari itu, ia putuskan bolos kuliah. Anda mungkin bertanya, kekecewaan seperti apa yang dia rasakan selama kuliah di THS? Kita bahas dalam kesempatan yang lain.
Sekarang…  kembali ke… Mar….haen. Pagi hari di saat pikiran suntuk, Sukarno muda mengayun langkah, mengambil sepeda onthel, dan mendayungnya tanpa tujuan. Kebetulan saja arah laju sepeda menuju Bandung Selatan, suatu daerah pertanian yang padat. Itu terjadi tahun 1920-an.
Suasana Bandung Selatan ketika itu, adalah suasana daerah pertanian. Petani mengerjakan sawahnya yang kecil, yang masing-masing luasnya kurang dari sepertiga hektare. Tak dinyana, pandangan Sukarno tertumbuk pada sosok petani muda yang tengah giat mencangkul. Dia seorang diri. Bung Karno pun tertarik menghampiri.
Di pinggir galangan sawah, Bung Karno berdiri termenung, menatap petani muda yang terus dan terus mengayunkan cangkul ke atas-ke bawah. Sejurus kemudian, Sukarno mendekat. Lebih dekat ke arah petani tadi. Demi mengetahui seseorang menghampiri, petani tadi menghentikan aktivitas mencangkul, dan melempar pandang ke arah Sukarno. Terjadilah tegur-sapa, sebuah tegur-sapa ramah khas Indonesia. Tidak ada ekspresi curiga, melainkan seringai sungging senyum pada kedua orang itu.
“Saha nu kagungan ieu sadayana nu dipidamel ayeuna ku aranjeun,” tanya Bung Karno dalam bahasa Sunda yang fasih. Artinya kurang lebih, “Siapa yang punya semua yang engkau kerjakan sekarang ini?”
“Saya, juragan,” jawab petani itu.
Bung Karno bertanya lagi, “Apakah engkau memiliki tanah inibersama-sama dengan orang lain?”
“O, tidak gan. Saya sendiri yang punya.”
“Tanah ini kaubeli?”
“Tidak. Warisan bapak kepada anak turun-temurun.”
Sejenak Bung Karno terdiam. Demi melihat “tamu sawah” itu diam, si petani pun kembali mencangkul. Menggali dan menggali. Sedangkan Sukarno pun melakukan penggalian mental. Menggali teori. Mencangkul filosofi di otaknya, hingga mengalirkan pertanyaan-pertanyaan lain yang bertubi: “Bagaimana dengan sekopmu? Sekop ini kecil, tapi apakah kepunyaanmu juga?
Petani muda kembali menghentikan kegiatan, dan menjawab, “Ya, gan.”
“Dan cangkulnya?”
“Ya, gan.”
“Bajak?”
“Saya punya, gan.”
“Untuk siapa hasil yang kau kerjakan.”
“Untuk saya, gan.”
“Apakah cukup untuk kebutuhanmu?”
Petani mengangkat bahu mengernyitkan dahi… 
“Bagaimana sawah yang begini kecil bisa cukup untuk seorang istri dan empat orang anak?”
“Apakah ada yang dijual dari hasilmu.”
“Hasilnya sekadar cukup untuk makan kami. Tidak ada lebihnya untuk dijual.”
“Kau mempekerjakan orang lain?”
“Tidak, juragan. Saya tidak dapat membayarnya.”
“Apakah engkau pernah memburuh?”
“Tidak, gan. Saya harus membanting tulang, akan tetapi jerih-payah saya semua untuk saya.”
Kemudian Bung Karno menunjuk sebuah gubuk kecil seraya bertanya, “Siapa yang punya rumah itu?”
“Itu gubuk saya, gan. Hanya gubuk kecil saja, tapi kepunyaan saya sendiri.”
“Jadi kalau begitu,” kata Bung Karno menyaring pikiran-pikiranya sendiri, “Semua ini engkau punya?”
“Ya, gan.”
Setelah itu, Bung Karno menanyakan nama petani muda itu. Dan petani itu menjawab, “Marhaen”. Nama Marhaen adalah nama biasa. Sama biasanya dengan nama Jones atau Smith di Amerika. Akan tetapi, dari dialog dengan Marhaen yang rakyat jelata itu pula Bung Karno mendapat ilham untuk rakyatnya. “Aku akan memakai nama itu untuk menamai semua orang Indonesia bernasib malang seperti itu!” Pikir Bung Karno.
Dan sejak itu, Bung Karno menamakan rakyatnya sebagai rakyat Marhaen.


Posted By :Nasionalisme Soekarno

Soekarno dibalik Nama Besarnya

Bung Karno
"Aku ini bukan apa - apa kalau tanpa rakyat,, aku besar karena rakyat, aku berjuang untuk rakyat dan aku adalah penyambung lidah rakyat" 
 
Pengakuan inilah yang meluncur dari Presiden Pertama Republik Indonesia kepada Cindy Adams
Dalam karyanya Menggali Api Pancasila. Sadar atau tidak sadar ia mengucapkannya, terkesan ada kejujuran di sana. Soekarno, sang orator ulung dan penulis piawai, memang selalu membutuhkan dukungan orang lain. Ia tak tahan kesepian dan tak suka tempat tertutup. Dari pidato dan tulisannya yang memperlihatkan betapa mahirnya ia menggunakan bahasa, tersirat sebuah kebutuhan untuk selalu mendapat dukungan dari orang lain.
Gejala berbahasa Soekarno, Bung Karno, merupakan fenomena langka yang mengundang kagum banyak orang. Wajar kalau muncul pertanyaan “Apakah kemahiran Soekarno menggunakan bahasa dengan segala ma-cam gayanya berhubungan dengan kepribadiannya?” Analisis terhadap kepribadian Soekarno melalui autobiografi, karangan karangannya, dan buku-buku sejarah yang memuat sepak terjangnya dapat membantu memberikan jawaban.
Dengan menggunakan pendekatan teori psi-kologi individual dari Alfred Adler (Hall dan Lindzey, 1985) dapat dipahami bagaimana Proklamator Kemerdekaan RI ini bisa menjadi pribadi yang berapi-api, pembakar semangat banyak orang, gagah dan teguh sekaligus sensitif, takut pada kesendirian, dan sangat membutuhkan dukungan sosial.
** Soekarno Pribadi yang kesepian **
Di akhir masa kekuasaannya, Soekarno sering merasa kesepian. Dalam autobiografinya yang disusun oleh Cindy Adams, Bung Karno.. Penyambung Lidah Rakyat, ia menceritakannya.
“Aku tak tidur selama enam tahun. Aku tak dapat tidur barang sekejap. Kadang-kadang, di larut malam, aku menelepon seseorang yang dekat denganku seperti misalnya Subandrio, Wakil Perdana Menteri Satu dan kataku, ‘Bandrio datanglah ke tempat saya, temani saya, ceritakan padaku sesuatu yang ganjil, ceritakanlah suatu lelucon, berceritalah tentang apa saja asal jangan mengenai politik. Dan kalau saya tertidur, maafkanlah.’… Untuk pertama kali dalam hidupku aku mulai makan obat tidur. Aku lelah. Terlalu lelah.” Ungkap nya kepada Cindy Adams..
Apa yang ditampilkan Soekarno dapat dilihat sebagai sindrom orang terkenal. Ia diklaim milik rakyat Indonesia. Walhasil, ia tak bisa lagi bebas bepergian sendiri menikmati kesenangannya.
Namun, melihat ke masa mudanya, kita juga menemukan tanda-tanda kesepian di sana. Semasa sekolah di Hogere Burger School (HBS), ia menekan kesendiriannya dengan berkubang dalam buku-buku, sebuah kompensasi dari kemiskinan yang dialaminya. Kebiasaan ini berlanjut hingga masa ia kuliah di Bandung. Soekarno terkenal sebagai pemuda yang pendiam dan suka menarik diri Indikasi kesepian juga kita dapatkan dalam ceritanya tentang penjara. Malam-malam di penjara menyiksanya dengan ruang yang sempit dan tertutup. Dinding-dinding kamar tahanannya terlalu menjepit dirinya. Lalu muncullah perasaan badannya yang membesar hingga makin terjepit dalam ruang tahanan itu.
“Yang paling menekan perasaan dalam seluruh penderitaan itu adalah pengurungan. Seringkali jauh tengah malam aku merasa seperti dilak rapat dalam kotak kecil berdinding batu yang begitu sempit, sehingga kalau aku merentangkan tangan, aku dapat menyentuh kedua belah dindingnya. Rasanya aku tak bisa bernafas. Kupikir lebih baik aku mati. Suatu perasaan mencekam diriku, jauh sama sekali dari keadaan normal."
Lebih jauh lagi ke masa kecilnya, Soekarno sering merasa sedih karena hidup dalam kemelaratan sehingga tak dapat menikmati benda-benda yang diidamkannya. Di saat anak-anak lain dapat menikmati makanan jajanan dan mainan, Karno hanya dapat menyaksikan mereka dengan perasaan sedih. Lalu ia menangis mengungkapkan ketidakpuasan sekaligus ketakberdayaannya. Selain itu, di lingkungan sekolah ia harus berhadapan dengan anak-anak Belanda yang sudah terbiasa memandang remeh pribumi.
Pengalaman yang cukup traumatis terjadi di masa lima tahun pertama. Soekarno pernah berturut-turut menderita penyakit seperti tifus, disentri, dan malaria yang berujung pada penggantian namanya dari Kusno menjadi Karno, nama seorang tokoh pewayangan putra Kunti yang berpihak pada Kurawa demi balas budi dan kewajiban membela negara yang menghidupinya. Sakit yang melemah-kan secara fisik dapat berpengaruh terhadap kondisi psikis. Sangat mungkin muncul perasaan lemah, tak berdaya, dan terasing pada diri Soekarno kecil. Untungnya dilakukan penggantian nama disertai penjelasan dari ayahnya tentang makna pergantian nama yang memberinya kebanggaan karena menyandang nama pejuang besar.
Pengalaman sakit-sakitan dan hidup dalam kemiskinan tampak membekas kuat dalam ingatan Soekarno. Di masa tuanya, ia menafsirkan kegemarannya bersenang-senang sebagai kompensasi dari masa lalunya yang dirampas kemiskinan. Ada semacam dendam terhadap kemiskinan dan ketidakberdayaan yang telah berkilat dalam dirinya. Dendam yang kemudian menggerakkannya pada semangat perjuangan kemerdekaan dan keinginan belajar yang tinggi.
*** Mitos-mitos dari masa kecil ***
Sejak kecil, Soekarno sudah menyimpan mitos tentang diri-nya sebagai pejuang besar dan pembaru bagi bangsanya. Ibunya, Ida Nyoman Rai, menceritakan makna kelahiran di waktu fajar.
“Kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di saat fajar mulai menyingsing. Kita orang Jawa mempunyai suatu kepercayaan, bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dulu. Jangan lupakan itu, jangan sekali-kali kau lupakan, nak, bahwa engkau ini putra dari sang fajar.”
Tanggal kelahiran Soekarno pun dipandangnya sebagai pertanda nasib baik.
“Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam. Tanggal enam bulan enam. Adalah menjadi nasibku yang paling baik untuk dilahirkan dengan bintang Gemini, lambang kekembaran. Dan memang itulah aku sesungguhnya. Dua sifat yang berlawanan.”
Soekarno melihat dirinya yang terdiri dari dua sifat yang berlawanan sebagai satu kemungkinan pertanda nasibnya di dunia politik.“Karena aku terdiri dari dua belahan, aku dapat memperlihatkan segala rupa, aku dapat mengerti segala pihak, aku memimpin semua orang. Boleh jadi ini secara kebetulan bersamaan. Boleh jadi juga pertanda lain. Akan tetapi kedua belahan dari watakku itu menjadikanku seseorang yang merangkul semua-nya.”
Kejadian lain yang dianggap pertanda nasib oleh Soekarno adalah meletusnya Gunung Ke-lud saat ia lahir. Tentang ini ia menyatakan, “Orang yang percaya kepada takhayul meramalkan, ‘Ini adalah penyambutan terhadap bayi Soekarno,” Selain itu, penjelasan tentang penggantian nama Kusno menjadi Karno pun memberi satu mitos lagi dalam diri Soekarno kecil tentang dirinya sebagai calon pejuang dan pahlawan bangsanya.
Kepercayaan akan pertanda-pertanda yang muncul di hari kelahiran Soekarno memberi semacam gambaran masa depan dalam benak Soekarno sejak masa kecilnya. Dalam kerangka pemikiran Adler, gambaran masa depan itu disebut fictional final goals (tujuan akhir fiktif). Meskipun fiktif (tak didasari kenyataan), tetapi gambaran masa depan ini berperan menggerakkan kepribadian manusia untuk mencapai kondisi yang tertuang di dalamnya.
Riwayat hidup Soekarno memperlihatkan bagaimana gambaran dirinya di masa depan dan persepsinya tentang Indonesia menggerakkannya mencapai kemerdekaan Indonesia.
Bombasme bahasa dan keinginan merengkuh massa Setelah menjadi presiden, Soekarno berpidato tiap tanggal 17 Agustus. Di sana dapat kita temukan kalimat-kalimat muluk, penggunaan perumpamaan elemen-elemen alam yang megah dan hiperbolisme bahasa. Dari tahun ke tahun pidatonya makin gegap-gempita, mencoba membakar semangat massa pendengarnya dengan retorika kata-kata muluk.
Dari kalimat-kalimat itu dapat dibayangkan seperti apakah kondisi psikis orang yang menggunakannya. Dalam pidatonya tanggal 17 Agustus 1949, contohnya, ia berseru, “Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali.” Di sini ada indikasi ia menempatkan diri sebagai orang yang bersemangat elang rajawali sehingga memiliki hak dan kewajiban untuk menyerukan pada rakyatnya agar memiliki semangat yang sama dengannya.
Seruan-seruan yang sering dilontarkan dalam pidatonya adalah tentang perjuangan yang harus dilakukan tak henti-henti.
“Kemerdekaan tidak menyudahi soal-soal, kemerdekaan malah membangun soal-soal, tetapi kemerdekaan juga memberi jalan untuk memecahkan soal-soal itu.”

* (Pidato 17 Agustus 1948)

“Tidak seorang yang menghitung-hitung: Berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya.”

* (Pidato 17 Agustus 1956)

“Karena itu segenap jiwa ragaku berseru kepada bangsaku Indonesia: “Terlepas dari perbedaan apa pun, jagalah Persatuan, jagalah Kesatuan, jagalah Keutuhan! Kita sekalian adalah machluk Allah! Dalam menginjak waktu yang akan datang, kita ini se-olah-olah adalah buta.”

* (Pidato 17 Agustus 1966)

Selain ajakan untuk berjuang, tersirat juga dari petikan-petikan tersebut bahwa Soekarno memandang dirinya sebagai orang yang terus-menerus berjuang mengisi kemerdekaan. Pengaruh fictional final goals-nya terlihat jelas, Soekarno yang sejak kecil membayangkan diri menjadi pemimpin bangsanya dengan kepercayaan tinggi menempatkan dirinya sebagai guru bagi rakyat.

“Adakanlah ko-ordinasi, ada-kanlah simponi yang seharmonis-harmonisnya antara kepentingan sendiri dan kepentingan umum, dan janganlah kepentingan sendiri itu dimenangkan diatas kepentingan umum.”

* (Pidato 17 Agustus 1951)

“Kembali kepada jiwa Proklamasi …. kembali kepada sari-intinya yang sejati, yaitu pertama jiwa Merdeka Nasional… kedua jiwa ichlas… ketiga jiwa persatuan… keempat jiwa pembangunan.”

(Pidato 17 Agustus 1952)

“Dalam pidatoku “Berilah isi kepada kehidupanmu” kutegaskan: “Sekali kita berani bertindak revolusioner, tetap kita harus berani bertindak revolusioner…. jangan ragu-ragu, jangan mandek setengah jalan…” kita adalah “fighting nation” yang tidak mengenal “journey’s-end”

* (Pidato 17 Agustus 1956)

Keinginannya untuk merengkuh massa sebanyak-banyaknya tampak dari kesenangannya tampil di depan massa. Bombasme-kecenderungan yang kuat untuk menggunakan kalimat-kalimat muluk dan ide-ide besar yang tidak disertai oleh tindakan konkret-praktis untuk mencapainya yang ditampilkannya dapat diartikan sebagai usaha memikat hati rakyat. Pidato-pidatonya banyak mengandung gaya hiperbola dan metafora yang berlebihan seperti “Laksana Malaikat yang menyerbu dari langit”, “adakanlah simfoni yang seharmonis-harmonisnya antara kepentingan sendiri dan kepentingan umum”, “Bangsa yang gila kemuktian, satu bangsa yang berkarat”, dan “memindahkan Gunung Semeru atau Gunung Kinibalu sekalipun.” Simak kutipan-kutipan berikut bagaimana gaya bahasa yang digunakan untuk memikat massa.
“Janganlah melihat ke masa depan dengan Mata Buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca mata benggalanya dari pada masa yang akan datang.”

* (Pidato 17 Agustus 1966)

“Atau hendakkah kamu menjadi bangsa yang ngglenggem”? Bangsa yang ‘zelfgenoegzaam’? Bangsa yang angler memeteti burung perkutut dan minum teh nastelgi? Bangsa yang demikian itu pasti hancur lebur terhimpit dalam desak mendesaknya bangsa-bangsa lain yang berebut rebutan hidup!”

* (Pidato 17 Agustus 1960)

Kita mau menjadi satu Bangsa yang bebas Merdeka, berdaulat penuh, bermasyarakat adil makmur, satu Bangsa Besar yang Hanyakrawati, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kertaraharja, otot kawat balung wesi, ora tedas tapak palune pande, ora tedas gurindo.

* (Pidato 17 Agustus 1963)

Gaya menggurui dari tahun ke tahun makin jelas terlihat dalam pidato Soekarno. Ia makin sering membuka pidatonya dengan kalimat “Saya akan memberi kursus tentang”. Pengaruh gambaran masa kecilnya tentang Soekarno sebagai pembuka fajar baru bagi bangsanya makin tegas. Ia tak menyadari bahwa gambaran itu bersifat fiktif, tak didasari kenyataan. Soekarno melambung tinggi dengan ide-idenya dan cenderung mengabaikan kondisi konkret bangsanya terutama kondisi ekonomi.
Posted By : Nasionalisme Soekarno 

Kedekatan Bung Karno Dengan Arif Sang Supir Taxi

Arif (Sang Supir Taxi) & Presiden Soekarno

Menopang lahirnya sebuah Republik dengan darah dan peluru mungkin sudah terlalu banyak kita dengar. Tapi berjuang dibalik stir kemudi sebuah taksi layak kita pertanyakan, karena dalam nalar sehat kita akan nampak jurang yang cukup jauh antara gempar Revolusi dan seorang sopir taksi.

Logika sehat yang telah hancur ataukah Arif sosok sopir taksi telah merubah sejarah, tapi setidaknya tulisan kecil ini dapat memberikan gambaran tentang Arif si sopir taksi yang memiliki hubungan dengan Bung Karno

Warna-warni bunganya revolusi. Aneka kisah kembangnya sejarah. Tak terkecuali sebait kisah, yang terjalin antara Bung Karno dan seorang sopir taksi bernama Arif.

Masa-masa tahun 1930-an, Bung Karno sangat intens berkomunikasi dengan tokoh pergerakan Betawi, M. Husni Thamrin yang tinggal di Gang Kenari, Kramat, Jakarta Pusat. Setiap minggu, Bung Karno pasti ke Jakarta, menemui Husni Thamrin. Kedatangan Bung Karno selalu menggunakan jasa kereta api, turun di stasiun Gambir.

Setelah keluar peron, Bung Karno akan menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari-cari Arif, sopir taksi langganannya. Arif sendiri tahu. Tak jarang ia justru jalan mengendap-endap, melingkar, menjauhi pandangan Bung Karno, tetapi arahnya mendekat dari belakang. Ketika sudah dekat, barulah ia tepuk pundak Bung Karno dan menyapa, “”Ngelamun Bung!”

Bung Karno pasti berjingkat kaget dan tertawa lebar, “Oh… kau Rif. Saya cari kamu sedari tadi,” tutur Bung Karno, yang digambarkan Arif sebagai pemuda jangkung berparas tampan, selalu mengenakan peci.
“Mau kemana Bung?” tanya Arif, sebuah pertanyaan basi, dilanjut pertanyaan susulan yang lebih basi lagi, “Ke Gang Kenari?”

“Iya dong, mau ke mana lagi…,” ujar Bung Karno seraya berjalan menuju taksi Arif di pelataran parkir.
Setelah duduk, Bung Karno berkata, “Eh… Rif, tetapi kali ini uang saya pas-pasan, bagaimana yaaa…?”
“Soal uang pas-pasan tidak perlu dipikir Bung,” kata Arif. Dalam hati Arif sangat bangga kepada pemuda yang dikenalnya sebagai tokoh pergerakan. Arif sangat senang mendengar cerita-cerita pergerakan, cita-cita kebangsaan, dan obrolan-obrolan ringan dari Bung Karno, setiap berada di dalam kabin taksinya.

Malah tak jarang, Arif yang ketika itu berusia 20-tahun merasa rendah diri, mengingat orang-orang seperti Bung Karno, Hunsi Thamrin sibuk membela kaumnya dari penjajahan Belanda, dia enak-enak mencari rezeki. Karena itu, ia merasa sudah menjadi bagian dari revolusi, meski sekadar mengantar Bung Karno ke Gang Kenari, balik ke Gambir, dengan tak jarang rela tidak dibayar, karena si Bung sedang tipis dompetnya.
Bagi Arif, apa yang dilakukan, sungguh tak berarti dibanding sepak terjang orang-orang seperti Bung Karno, yang tidak pernah berpikir untuk dirinya, bahkan rela berhadapan dengan Belanda, rela pula dipenjara bertahun-tahun. Kisah-kisah Bung Karno tentang marhaenisme, kapitalisme, dan kekejaman kolonialisme, benar-benar telah merasuk dalam peredaran darah merah Arif, si sopir taksi.

Kalimat Bung Karno yang melekat antara lain, “Arif, kita harus sadar bahwa kita ini bukan bangsa tempe, tetapi masih cucu elang rajawali. Coba saja siapa yang tidak kenal tokoh Gajah Mada yang dapat menyatukan Majapahit. Bukankah pada waktu itu negara Majapahit berpengaruh sampai luar negeri? Nah, di sinilah Arif, kita harus sadar sesadar-sadarnya, dan ketahuilah tidak seorangpun dapat mengubah nasib bangsanya kalau bangsa itu sendiri tidak mau berusaha, tidak mau bangkit, mengubahnya sendiri.”
Bagaimana dengan utang-utang Bung Karno kepada Arif? “Ah, Bung Karno itu sangat baik. Kalau dia ada uang, langsung dibayar semua”

Kisah berlanjut hingga ke suatu hari, Arif mengantar Bung Karno ke Gang Kenari. Sebelum turun, Bung Karno berpesan supaya besok pagi dijemput di Gang Kenari, menuju Gambir, selanjutnya kembali ke Bandung. “Besok jemputlah di tempat ini. Jangan lupa Rif, besok pun masih ngutang lagi yaa” kata Bung Karno sambil menepuk pundak Arif.

Arif menyahut, “Bung, jangan berkata begitu terus, bikin malu saya saja… sampai besok pagi bung!”
Keesokan harinya, tanggal 1 Agustus 1933, Arif meninggalkan rumah, mengarahkan taksinya ke Gang Kenari, hendak menjemput Bung Karno. Betapa terkejut Arif, sesampai di Gang Kenari didapat berita bahwa tadi malam Belanda menangkap Bung Karno. Arif menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi kemudi sambil bergumam, “Nasib pejuang. Kemarin masih bercanda sama saya, hari ini sudah meringkuk di penjara.”

Kisah selanjutnya tentang Bung Karno didapat Arif dari para pejuang yang lain, serta dari suratkabar. Arif tetap mengikuti berita tentang pembuangan Bung Karno ke Ende, disusul pembuangan ke Bengkulu, hingga akhirnya Jepang masuk Indonesia tahun 1942. Arif tak pernah lagi berjumpa dengan Bung Karno.

Tiba-tiba pada era pendudukan Jepang, ia kedatangan tamu orang yang sangat dikenalnya… “Arif… apa kabarnya,” sapa tamu itu ramah. Tamu yang dimaksud, tak lain dan tak bukan adalah tokoh pergerakan yang kesohor: Bung Karno. Ia datang bertamu malam-malam ke rumah dengan dua tujuan. Pertama, melunasi semua utang ongkos taksi terdahulu. Kedua, menawarinya pekerjaan menjadi sopir pribadi Bung Karno.

Kisah selanjutnya, Arif selalu bersama Bung Karno. Ia merasa terhormat, Bung Karno tidak melupakan jasa kecil orang kecil seperti Arif, sopir taksi bagi jalannya revolusi. Tercatat, Arif mengabdi sebagai pengemudi pribadi Bung Karno hingga tahun 1960. Saat Bung Karno bertanya, apa keinginan Arif setelah berhenti bekerja? Spontan Arif menyatakan keinginannya pergi ke tanah suci.
Bung Karno pun mengabulkan Arif pergi haji.

Posted By : Nasionalisme Soekarno

Benarkah Soekarno adalah seorang Komunis???

Presiden Soekarno
Judul diatas kiranya terlalu sering kita dengar. Terlebih diawal berdirinya ORBA atau saat-saat awal runtuhnya kekuasaan Bung Karno.

Mengapa isu itu harus dihembuskan? Jawabnya hanya satu : Masyarakat Indonesia sangat religius dan sangat sulit menerima kehadiran seorang komunis. Maka hanya dengan mengisyukan bahwa Soekarno komunislah usaha untuk melepaskan ikatan batin antara Soekarno dan masyarakat yang mencintainya akan berhasil.

Bung Karno, lahir bukan dari keluarga muslim dalam pengertian seperti keluarga “pak haji”. Ibunya dari Bali, yang tentu saja sebelumnya memeluk Hindu sebagai keyakinannya. Ayahnya? Seperti kebanyakan muslim Jawa tempo doeloe, yakni seorang muslim “abangan”, cenderung kejawen. Dia mengenal rukun Islam, dia menjalankan kewajiban-kewajiban sebagai orang Islam, tetapi juga menjalankan ritual-ritual kejawen yang sarat mistik.

Perkenalan Sukarno dengan Islam lebih dalam, diakuinya saat usia 15 tahun, saat ia duduk di bangku HBS. Yang memperkenalkan adalah H.O.S. Cokroaminoto. Ia bahkan terbilang rajin mengikuti pengajian Muhammadiyah, di sebuah tempat di seberang Gang Peneleh, Surabaya, tempat ia tinggal bersama keluarga Cokro. Sekali dalam sebulan, ia mengaji di sana, dari pukul 20.00 hingga larut malam.

Akan tetapi, pendalaman terhadap Alquran diperoleh tahun 1928, saat ia mendekam di sel nomor 233 penjara Sukamiskin, Bandung. Segala bacaan yang berbau politik dilarang, jadilah ia mendalami Alquran sedalam-dalamnya. Kepada penulis biografinya, Cindy Adams, Bung Karno mengaku, sejak itu ia tak pernah meninggalkan sujud lima kali sehari menghadap ka’bah: Subuh, dhuhur, ‘asar, maghrib, dan isya.

Sejak itu pula, segala sesuatu dijawabnya dengan “Insya Allah — Kalau Tuhan menghendaki.” Mungkinkah seseorang yang sujud lima kali sehari menyembah Allah SWT adalah seorang komunis? Tanyalah dia, “He, Sukarno, apakah engkau akan pergi ke Bogor minggu ini?” Dan Sukarno akan menjawab, “Insya Allah, kalau Tuhan mengizinkan saya pergi.” Mungkinkan orang yang demikian dapat menjadi seorang komunis?

Ia sendiri meragukan kalau ada manusia yang bertahun-tahun disekap dalam dunia penjara yang gelap, tetapi masih meragukan adanya Tuhan. Akan halnya Sukarno, ia bertahun-tahun mendekam di balik jerajak besi. Malam-malam yang gelap, ia hanya bisa mengintip kerlip bintang di langit dari sebuah lubang penjara yang sempit. Manakala rembulan melintas, sejenak sinarnya mengintip Bung Karno di dalam penjara.

Masa-masa yang gelap di dalam penjara, masa-masa di mana ia tak bisa menelan bulat-bulat indahnya purnama dan bintang-gemintang, Bung Karno hanya bisa tertunduk sendiri. Ia sungguh tak tahu nasib akan berkata apa saat fajar menyingsing nanti. Sukarno menuturkan, dalam keadaan seperti itulah, sholat malam menjadi begitu khusuk.

Pengkajian alquran yang intens, menempatkan kesadaran tertinggi seorang Sukarno, bahwa Tuhan bukanlah suatu pribadi. Tuhan tiada hingganya, meliputi seluruh jagat raya. Ia Maha Kuasa. Ia Maha Ada. Tidak hanya di pengapnya ruang penjara, akan tetapi ada di mana-mana. Ia hanya esa. Tuhan ada di atas puncak gunung, di angkasa, di balik awan, di atas bintang-bintang yang ia lihat setiap malam-malam tak berawan. Tuhan ada di venus. Tuhan ada di Saturnus, Ia tidak terbagi-bagi di matahari dan di bulan. Tidak. Ia berada di mana-mana, di hadapan kita, di belakang kita, memimpin kita, menjaga kita.

Sampai pada kesadaran yang demikian, Bung Karno insaf seinsaf-insafnya, bahwa tak ada satu pun yang patut ia takutkan, karena ia sadar betul bahwa Tuhan tak jauh dari kesadarannya. Yang ia perlukan hanyalah bermunajat ke dalam hati yang terdalam untuk menemuiNya. Ia pun memasrahkan setiap langkahnya agar senantiasa dipimpin oleh Tuhan yang ia sembah dalam menggelorakan revolusi kemerdekaan.


Posted By : Nasionalisme Soekarno

Aku Tahu Gerakan Sang "Smiling General"

Presiden Soekarno saat Melantik Jenderal Soeharto
Menjadi seorang Presiden mungkin “tidak terlalu sulit,” tetapi menjadi seorang pemimpin negeri sangatlah tidak mudah. Meraih jabatan sebagai Presiden banyak ditopang oleh kematangan strategi politik, tetapi menjadi pemimpin sebuah negeri sangat membutuhkan kekuatan mental serta kesediaan sakit dan berkorban demi negeri serta rakyat yang dipimpinnya.
Konsep sebagai seorang pemimpin besar telah ditunjukkan secara nyata oleh Presiden Soekarno dalam menyikapi langkah-langkah kudeta Jenderal Soeharto dan kroninya.
TINDAKAN Soeharto menyelewengkan Surat Perintah 11 Maret 1966 sangat menyakiti perasaan Bung Karno. Sejumlah petinggi militer yang masih setia pada Sukarno ketika itu pun merasa geram. Mereka meminta agar Sukarno bertindak tegas dengan memukul Soeharto dan pasukannya. Tetapi Sukarno menolak.
Sukarno tak mau terjadi huru-hara, apalagi sampai melibatkan tentara. Perang saudara, menurut Sukarno, adalah hal yang ditunggu-tunggu pihak asing—kaum kolonial yang mengincar Indonesia–sejak lama. Begitu perang saudara meletus, pihak asing, terutama Amerika Serikat dan Inggris akan mengirimkan pasukan mereka ke Indonesia dengan alasan menyelamatkan fasilitas negara mereka, mulai dari para diplomat kedutaanbesar sampai perusahaan-perusahaan asing milik mereka.
Kesaksian mengenai keengganan Sukarno menggunakan cara-cara kekerasan dalam menghadapi manuver Soeharto disampaikan salah seorang menteri Kabinet Dwikora, Muhammad Achadi. Saya bertemu Achadi, mantan menteri transmigrasi dan rektor Universitas Bung Karno itu dua pekan lalu di Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat. Achadi bercerita dengan lancar kepada saya dan beberapa teman. Air putih dan pisang rebus menemani pembicaraan kami sore itu.
Komandan Korps Komando (KKO) Letjen Hartono termasuk salah seorang petinggi militer yang menyatakan siap menunggu perintah pukul dari Sukarno. KKO sejak lama memang dikenal sebagai barisan pendukung utama Soekarno. Kalimat Hartono: “hitam kata Bung Karno, hitam kata KKo” yang populer di masa-masa itu masih sering terdengar hingga kini.
Suatu hari di pertengahan Maret 1966, Hartono yang ketika itu menjabat sebagai Menteri/Wakil Panglima Angkatan Laut itu datang ke Istana Merdeka menemui Bung Karno. Ketika itu Achadi sedang memberikan laporan pada Sukarno tentang penahanan beberapa menteri yang dilakukan oleh pasukan yang loyal pada Soeharto.
Mendengar laporan itu, menurut Achadi, Bung Karno berkata (kira-kira), “Kemarin sore Harto datang ke sini. Dia minta izin melakukan pengawalan kepada para menteri yang menurut informasi akan didemo oleh mahasiswa.”
“Tetapi itu bukan pengawalan,” kata Achadi. Untuk membuktikan laporannya, Achadi memerintahkan ajudannya menghubungi menteri penerangan Achmadi. Seperti Achadi, Achmadi juga duduk di Tim Epilog yang bertugas menghentikan ekses buruk pascapembunuhan enam jenderal dan perwira muda Angkatan Darat dinihari 1 Oktober 1965. Soeharto juga berada di dalam tim itu.
Tetapi setelah beberapa kali dicoba, Achmadi tidak dapat dihubungi. Tidak jelas dimana keberadaannya.
Saat itulah Hartono minta izin untuk menghadapi Soeharto dan pasukannya. Tetapi Bung Karno menggelengkan kepala, melarang.
Padahal masih kata Achadi, selain KKO, Panglima Kodam Jaya Amir Machmud, Panglima Kodam Siliwangi Ibrahim Adji, dan beberapa panglima kodam lainnya juga bersedia menghadapi Soeharto.
“Bung Karno tetap menggelengkan kepala. Dia sama sekali tidak mau terjadi pertumpahan darah, dan perang saudara.”
Kalau begitu apa yang harus kami lakukan, tanya Achadi dan Hartono.
Bung Karno memerintahkan Hartono untuk menghalang-halangi upaya Soeharto agar jangan sampai berkembang lebih jauh. “Hanya itu tugasnya, Hartono diminta menjabarkan sendiri. Yang jelas jangan sampai ada "Perang Saudara" kata Achadi.
Menghindari "Perang Saudara" inilah sebagai wujud kecintaan Presiden Soekarno terhadap rakyat dan negeri ini. Pantang bagi Bung Karno meneteskan darah diatas negeri ini, apabila hanya akan ditukar dengan sebuah kekuasaan.

Posted By : Nasionalisme Soekarno

Hubungan Soekarno & Pelajar Indonesia

Selasa 18 Januari 1966, delegasi KAMI bertemu dengan Soekarno. Ini adalah yang kedua kalinya. Cuma, pertemuan pertama dengan Soekarno berlangsung ringkas saja, yaitu saat berlangsung Sidang Paripurna Kabinet 15 Januari. Delegasi mahasiswa menyampaikan tuntutan-tuntutan pembubaran PKI, reshufle kabinet dan penurunan harga. Pertemuan 18 Januari adalah pertemuan yang terjadwal.
 
Dalam pertemuan itu, delegasi KAMI terdiri antara lain dari Cosmas Batubara, David Napitupulu, Zamroni, Mar’ie Muhammad, Elyas, Lim Bian Koen, Firdaus Wajdi, Abdul Gafur dan Djoni Sunarja. Tentang pertemuan ini, David Napitupulupernah mengisahkan di tahun 1986, betapa Soekarno masih berhasil menunjukkan wibawa dan membuat beberapa tokoh mahasiswa ‘melipatkan’ dan merapatkan tangan di depan perut bawah dengan santun. Menjawab tudingan Soekarno yang disampaikan dengan nada keras, salah satu anggota delegasi menjelaskan kepada Soekarno bahwa kalau ada ekses-ekses yang terjadi dalam aksi-aksi KAMI, semisal corat-coret dengan kata-kata kotor, itu “adalah pekerjaan tangan-tangan kotor” yang menyusup ke dalam “barisan mahasiswa progressif revolusioner”.
Soekarno antara lain mempersoalkan corat-coret yang menyebut salah satu isterinya, Nyonya Hartini, sebagai ”Gerwani Agung”. Gerwani adalah organisasi wanita Underbouw PKI
Delegasi KAMI juga menyampaikan tiga tuntutan rakyat. Dan Soekarno menjawab “Saya mengerti sepenuhnya segala isi hati dan tuntutan para mahasiswa”, dan menyatakan tidak menyangsikan maksud-maksud baik mahasiswa. Tetapi dengan keras Soekarno menyatakan tidak setuju cara-cara mahasiswa yang menjurus ke arah vandalisme materil dan vandalisme mental, yang menurut sang Presiden bisa ditunggangi golongan tertentu dan Nekolim, yang tidak menghendaki persatuan Bung Karno dan mahasiswa. Dalam pertemuan yang disebut dialog ini, yang terjadi adalah Soekarno mengambil kesempatan berbicara lebih banyak daripada para mahasiswa. Tentang pembubaran PKI, kembali Soekarno tidak memberikan jawaban memenuhi tuntutan pembubaran, dan hanya menyuruh mahasiswa menunggu keputusan politik yang akan diambilnya.
Tentang ‘kemarahan’ Soekarno saat pertemuan tersebut, juga diceritakan tokoh 1966 Cosmas Batubara, dalam tulisannya ‘Napak Tilas Gerakan Mahasiswa 1966’ (dalam OC Kaligis – Rum Aly, Simtom Politik 1965, Kata Hasta, 2007).
Sebelum kami diterima Presiden, tulis Cosmas, ajudan Presiden yaitu Mayor KKO Widjanarko mengatakan Presiden “akan marah kepada anda semua”. Karena itu, kata Widjanarko, “saran saya, diam saja dan dengar. Biasanya Presiden itu akan marah-marah selama kurang lebih 30 menit”. Apa yang dikatakan Mayor Widjanarko memang benar. Setengah jam pertama Presiden Soekarno marah dan mengatakan bahwa para mahasiswa sudah ditunggangi oleh Nekolim (Neo Kolonialisme dan Imperialisme). “Kemudian secara khusus Presiden Soekarno marah kepada saya” dengan mengatakan, “saudara Cosmas sebagai orang Katolik, mengapa ikut-ikut demonstrasi dan saya dapat laporan bahwa anggota PMKRI menulis kata-kata yang tidak sopan terhadap Ibu Hartini. Saudara harus tahu bahwa Paus menghargai saya dan memberi bintang kepada saya. Betul kan saudara Frans Seda bahwa Paus baik dengan saya?”. Frans Seda yang ikut hadir dalam pertemuan itu mengangguk.
“Presiden Soekarno tidak sadar bahwa para mahasiswa yang datang masing-masing sangat independen” tulis Cosmas lebih lanjut. “Kalau saya diserang secara pribadi bukan berarti yang lain akan diam”. Setelah Presiden Soekarno marah-marah, para peserta pertemuan satu persatu melakukan reaksi dan akhirnya Presiden Soekarno kewalahan. Lalu sambil menoleh kepada Roeslan Abdoelgani, Soekarno berkata, “Roeslan, mereka ini belum mengerti revolusi. Bawa mereka dan ajar tentang revolusi”.
Akhirnya pertemuan selesai tapi belum ada putusan Presiden tentang Tritura. “Seperti hari-hari sebelumnya para mahasiswa mulai lagi demonstrasi. Dalam puncak kejengkelannya terhadap demonstrasi KAMI, maka pada tanggal 25 Februari 1966 Presiden Soekarno mengeluarkan putusan membubarkan KAMI yang diikuti pengumuman tidak boleh berkumpul lebih dari lima orang”.


Posted By : Nasionalisme Soekarno

Sang "Elang" Kini Terbang Sendiri

Bung Karno
Terlalu banyak kisah heroik menjelang dan pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Jalannya revolusi, penuh riak gelombang. Panas-dingin suhu politik. Naik-turun irama pergerakan. Jalinan hubungan antara sang pemimpin dengan yang dipimpin, tak urung mengalami pasang dan surut.

Bung Karno tak pernah sepi dari kontroversi. Lihat sejarah Romusha. Tengok sejarah pembentukan PETA. Tidak semua langkah Sukarno didukung semua elemen perjuangan. Beberapa pemuda bahkan menentang keras, mengecam, bahkan mengutuk Sukarno yang mereka tuding sebagai “kolaborator”. Benar.

Sikap Sukarno yang mau bekerja sama dengan Jepang untuk beberapa hal, dinilai keblinger, dan melenceng dari cita-cita menuju Indonesia merdeka.
Persoalannya, seperti yang Bung Karno keluhkan kepada Cindy Adams, penulis biografinya, bahwa ia tidak mungkin keliling Indonesia, mendatangi satu per satu orang dan menjelaskan semua langkah dan keputusannya. Termasuk yang cap terhadapnya sebagai kolabortor Jepang. Bung Karno hanya punya keyakinan. Bung Karno hanya punya perhitungan. Bung Karno hanya punya ego yang sangat kuat.

Alhasil, ketika tahun 1943 Jepang mendirikan PETA, Bung Karno sendiri yang memilihkan pemuda-pemuda cakap untuk menjadi anggotanya, satu di antaranya Gatot Mangkupraja, pemberontak PNI yang senasib dengan Bung Karno ketika dijebloskan ke penjara Sukamiskin tahn 1929. Sikap Bung Karno didasari perhitungan, dengan menjadi anggota PETA, maka para prajurit muda asli putra bangsa, akan mendapat pelajaran-pelajaran penting tentang dasar-dasar kemiliteran, ilmu berperang, strategi bertempur, dan penguasaan peralatan perang modern.

Sementara, sekelompok muda yang progresif menentang bergabung dengan PETA, bahkan mengutuk Sukarno yang mendukung PETA, demi membantu Jepang melawan Sekutu. Itu pula yang diucapkan seorang dokter muda yang merawat Bung Karno di rumah sakit, sekitar tahun 1943. Katanya, “Banyak orang mengatakan, dengan memasuki tentara (PETA) yang didirikan oleh Jepang hanya berarti kita akan membantu Jepang saja.”

Bung Karno marah dan menukas, “Itulah pandangan yang dangkal. Orang yang berpikir demikian, tidak bisa melihat jangka yang lebih jauh ke depan. Tujuan yang pokok adalah melengkapi alat perjuangan bagi kemerdekaan. Tidak ada maksud lain daripada itu.”
Dokter itu membantah, “Tapi ingatlah bahwa Jepang datang kemari untuk menjajah. Dia itu musuh. Bertempur di samping mereka berarti membantu Fasisme!”

Bung Karno menjawab, “Kukatakan, pendirian yang demikian itu terlalu picik. Tapi, baiklah, Jepang itu datang kemari untuk menjajah dan harus diterjang keluar. Akan tetapi ingat, bahwa mereka adalah penjajah yang bisa diperalat. Saya membantu pembentukan PETA — ya! Tapi bukan untuk mereka! Tidakkah dokter memahaminya? Untuk kita! Untuk engkau! Untukku! Untuk Tanah Air kita! Atau, apakah dokter tetap mau menjadi orang jajahan sampai hari kiamat?

Dokter itu belum puas, dan terus berbantah dengan Sukarno, “Rakyat menyatakan tentang Bung Karno, bahwa……..”

“Rakyat tidak mengatakan apa-apa!” Bung Karno memotong kalimat dokter. “Jikalau mereka yakin, bahwa saya tidak menempuh jalan yang paling baik, tentu rakyat tidak akan mengikuti saya, bukan? Coba, apakah memang rakyat tidak mengikuti saya?”

“Tidak.”

“Bukankah mereka mengikuti saya?”

“Ya, seratus persen.”

“Jadi, rakyat tidak mengatakan apa-apa. Hanya beberapa pemuda yang kepala panas saja yang mengatakan….”

“Bahwa Bung Karno bekerja sama dengan musuh,” dokter melengkapi kalimat Bung Karno.
Tapi toh, dialog itu tidak bisa meredam para pemuda yang disebut Bung Karno kepala panas. Makanya, Bung Karno pada waktu-waktu itu, masih sering menjumpai secarik kertas berisi surat kaleng yang diselipkan di bawah pintu. Salah satu dari surat itu menyebutkan, “Karena kami dipimpin oleh seseorang yang bersemangat tikus, kami tidak berani berjuang. Akan tetapi jika kami dipimpin oleh seseorang yang bersemangat banteng, kami akan bertempur mati-matian.”

Atas kejadian itu, Bung Karno hanya bergumam, “Ah… ini hari yang jelek.” Hati Sukarno benar-benar sedih. Dalam keadaan tertekan seperti itu, satu kalimat yang bisa membuatnya tenang kembali, “Bebek berjalan berbondong-bondong, akan tetapi burung elang terbang sendirian.”

Posted By : Nasionalisme Soekarno